Rabu, 27 Januari 2016


PERSEDIAN



I.     Pengertian Persediaan
1.      Pengertian Umum Persediaan (inventory), adalah meliputi semua barang yang dimiliki  perusahaan pada saat tertentu, dengan tujuan untuk dijual atau dikonsumsi dalam siklus operasi normal perusahaan. Aktiva lain yang dimiliki  perusahaan, tetapi tidak untuk dijual atau dikonsumsi tidak termasuk dalam klasifikasi persediaan. Persediaan merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi  perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana  perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan- bahan bangunan.

2.      InventoryPerusahaan Dagang
Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas  barang, atau dapat dikatakan tidak ada proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual kembali oleh perusahaan. 3.

3.      Inventory Perusahaan Industri
Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi atau mungkin menjadi  bahan baku bagi perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses usaha utama perusahaan.

Misalnya : Perusahaan industri permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani atau perkebunan, diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya. Sedangkan perusahaan industri kain  bahan bakunya adalah benang yang diolah menjadi kain sebagai barang  jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi membutuhkan bahan baku kain dan seterusnya.

Dengan gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan- perusahaan manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
a.      Bahan baku ( direct material ) Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses  produksi, sehingga akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkannya pihak pemasok serta tingkat efisiensi penjadwalan pembelian dan kegiatan produksi.

b.      Barang dalam proses ( work in proses )
Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi  barang jadi, sehingga persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan  baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian barang  jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya produksi. Dalam rangka memperpendek waktu  produksi salah satu cara adalah dengan menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa dipercepat. Cara laian adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.

c.       Barang jadi ( finished goods )
Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan dengan cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk resiko yang kecil ( marginal risk ). Tetapi tidak peduli apakah barang- barang tercatat sebagai persediaan atau sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk menuju realisasi kas tinggal satu langkah saja. Dan laba  potensial dapat menutup tambahan resiko penagihan piutang.

II.      Metode Pencatatan Persediaan Barang
Metode yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan  persediaan ada dua, yaitu sebagai berikut ini.

1.      Metode Stock Opname atau Metode Periodik (Fisik)
Persediaan yang merupakan komponencost of goods sold (CGS) maka  perhitungan kuantitas persediaan yang dilakukan denganstock opname tergantung dari kelengkapan data atau catatan dan perhitungan barang. Dengan cara ini perhitungan persediaan yang dibebankan pada CGS ada kemungkinan overstatement , karena hanya membandingkan dan menghitung jumlah barang yang dimiliki dikurangi dengan persediaan akhir. Sehingga kalau terjadi adanya barang yang hilang, rusak, menguap, turun kualitasnya dsb, maka hal ini bila tidak terungkap akan menyebabkan laporan laba    rugi tidak atau kurang informatif. Karena tidak ada catatan mutasi persediaan barang maka harga  pokok penjualan juga tidak dapat diketahui sewaktu-waktu. Harga pokok  penjualan baru dapat dihitung apabila persediaan akhir sudah dihitung. Di samping itu, karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya.
diperlukan sebagai kerugian extraordinary item, kemudian dengan
perhitungan stock opname
secara berkala tidaklah cukup sebagai dasar  pembuatan keputusan yang bersifat manajerial secara cepat.
Perhitungan harga pokok penjualan dilakukan dengan cara sebagai  berikut:
Persediaan barang awal   Rp      xxx
Pembelian                                     xxx (+)
Brg tersedia untuk dijual Rp        xxx
Persediaan barang akhir              xxx (-)
Harga Pokok Penjualan     Rp       xx

2.      Metode Perpetual
Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada saat menentukan nilai dan jumlah barang, karena dengan metode pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo persediaan setiap saat dapat diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung jumlah barang bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement, karena adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam menentukan jumlah persediaan adalah kalau menggunakan metode gabungan antara metode perpetual dengan stock opname (metode fisik).

Perbedaan perhitungan atau pencatatn antara metode stock opname
(metode fisik) dengan metode perpetual dapat dilihat pada tabel di Lembar Selanjutnya :

TRANSAKSI
METODE FISIK
METODE PERPETUAL
Pada saat  pembelian
barang dagangan
Pembelian       xx   

       Kas/Utang      xx
Persediaan brg dgng  xx
       
      Kas/ Utang                   xx
PERPETUAL Pada saat penjualan  barang dagangan
Kas/piutang    xx

      Penjualan        xx 
Kas/Piutang             xx

      Penjualan                    xx

Harga Perolehan     xx

      Persediaan brg dgng xx


TRANSAKSI
METODE FISIK
METODE PERPETUAL
Retur Penjualan Retur
Penjualan                  xx
 
Piutang                      xx
Retur penjualan         xx

     Piutang                          xx

Persediaan brg dgng xx

     Harga perolehan          xx
Retur Pembelian
Utang Dgng               xx

Retur Pemb               xx
Utang Dagang             xx

     Retur Pembelian          xx
Penyesuaian
Ikhtisar L/R                xx

Prsdiaan brg dgng    xx

Persediaan brg dgng
                                xx

     Ikhtisar L/R                xx 



_

III.      Masalah Pemilikan Persediaan Barang
1.      Kepemilikan Persediaan dalam PerjalananPersediaan barang dalam perjalanan, meliputi pihak yang berhak menerima persediaan.
a.      FOB ( Free on Board ) shipping point. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan pengirim barang yang independen.
b.      FOB ( Free on Board ) destination point. Kepemilikan barang masih  berada di penjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.

2.      Barang-barang yang Dipisahkan ( Segregated Goods)
Kadang-kadang terjadi suatu kontrak penjualan barang dalam jumlah  besar
hingga pengirimannya tidak dapat dikirim sekaligus. Barang-barang yang dipisahkan tersendiri dengan maksud untuk memenuhi kontrak-kontrak atau pesanan-pesanan walaupun belum dikirim, haknya sudah  berpindah kepada pembeli. Oleh karena itu pada tanggal penyusunan laporan keuangan jika ada barang-barang dipisahkan, harus dikeluarkan dari jumlah persediaan penjual dan dicatat sebagai penjualan. Begitu pula  pembeli dapat mencatat pembelian dan menambah persediaan barangnya.


3.      Barang Konsinyasi ( Consignment Goods) Dalam cara penjualan titipan, barang-barang yang dititipkan untuk dijualkan (dikonsinyasikan) haknya masih tetap pada yang menitipkan sampai barang-barang tersebut dijual. Sebelum barang-barang tersebut dijual masih tetap menjadi persediaan pihak yang menitipkan ( consignor ). Pihak yang menerima titipan ( consignee ) tidak mempunyai hak atas  barang-barang tersebut sehingga tidak mencatat barang-barang tersebut sebagai persediaannya. Apabila barang-barang itu sudah dijual maka yang menerima titipan membuat laporan pada yang menitipkan. Pada waktu menerima laporan, pihak yang menitipkan mencatat penjualan dan mengurangi persediaan barangnya.

4.      Penjualan Angsuran ( Installment Sales ) Dalam penjualan angsuran, hak atas barang tetap pada penjual sampai seluruh harga jualnya dilunasi. Penjual akan melaporkan barang-barang tersebut dalam persediaannya dikurangi jumla yang sudah dibayar. Pembeli akan melaporkan barang-barang tersebut dalam persediannya sejumlah yang sudah dibayarkannya. Apabila dianggap bahwa kemungkinan pembatalan penjualan tersebut kecil maka penjual dapat mengakuinya sebagai penjualan biasa yang diangsur dan pembeli dapat mencatatnya sebagai pembelian biasa yang pembayarannya diangsur. Ada beberapa cara penjualan angsuran di mana masing-masing cara akan ditentukan cara mencatatnya.



Contoh kasus:
Dibeli mesin dengan harga RP20.000.000,00 yang pembayarannya akan diangsur selama 5 tahun, setiap tahun sebesar Rp4.000.000,00 ditambah bunga 10% pertahun. Jurnal yang dibuat oleh pembeli untuk mencatat pembelian mesin dan pembayaran angsuran adalah sebagai  berikut: Pembelian mesin:
Mesin                          Rp20.000.000,00
Hutang                        Rp20.000.000,00
Akhir tahun pertama:
Hutang                        Rp4.000.000,00
Biaya bunga                Rp2.000.000,00
Kas                               Rp6.000.000,00
Bunga: 10% x Rp20.000.000,00 = Rp2.000.000,00

Akhir tahun kedua:
Hutang                        Rp4.000.000,00
Biaya bunga                Rp1.600.000,00
Kas                               Rp5.600.000,00
Bunga: 10% x Rp16.000.000,00 = Rp1.600.000,00 dan seterusnya



IV.       Metode Penentuan Harga Pokok Penjualan
1.      Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok ( cost basic flow approach) ini terdapat dua sistem pencatatan persediaan yaitu sistem  periodik dan sistem perpetual yang masing-masing ada tiga cara  penilaian persediaan, yaitu:
a.      FIFO ( First in First Out ), masuk pertama keluar pertama (MPKP) Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama) masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderung menghasilkan  persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva  perusahaan yang dibeli. 
b.      LIFO ( Last In First Out ), masuk terakhir keluar pertama (MTKP) Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga  persediaan akhir dinilai dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehan  persediaan yang awal (pertama) masuk atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan  berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah.
c.       Metode Rata-rata ( average method ) Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai  persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga  pokok penjualan dan laba kotor.

2.      Penilaian Persediaan Selain Arus Harga Pokok Dalam pendekatan ini ada tiga metode yang digunakan, yaitu:
a.       Lower Cost of Market
Yaitu metode harga terendah antara harga pokok dan harga pasar. Metode ini dapat diterapkan dalam kondisi persediaan tidak normal, misalnya cacat, rusak dan kadaluarsa. Pokok dari metode ini adalah membandingkan nilai yang lebih rendah antara nilai pasar (replacement value) dan nilai perolehan ( cost ). Nilai pasar yang akan dipilih harus dibatasi, yaitu tidak boleh lebih rendah dari  batas bawah ( floor limit ) dan tidak boleh lebih tinggi dari ( ceiling limit ).

b.      Gross Profit Method
Metode laba kotor ini bersifat estimasi dalam penilaian  persediaannya. Biasanya diterapkan karena keterbatasan dokumen yang terkait dengan persediaan, misalnya karena terjadi bencana kebakaran dan banjir. Dasar penilaian persediaannya adalah pada  persentase laba kotor perusahaan tahun berjalan atau rata-rata selama beberapa tahun.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1)      mengestimasi nilai penjualan tahun berjalan,
2)      menghitung nilai harga pokok penjualan berdasarkan pada  persentase laba kotor yang telah diketahui, dan
3)      menghitung estimasi nilai persediaan akhir dengan mengurangkan harga pokok penjualan terhadap penjualan.

c.       Retail Method
Metode eceran ini menilai persediaan akhir dengan cara menghitung terlebih dahulu nilai persediaan akhir berdasarkan eceran. Nilai persediaan akhir dengan harga pokok akan diketahui dengan cara menghitung rasio antara nilai persediaan yang tersedia untuk dijual dengan pendekatan harga pokok dibandingkan dengan  pendekatan ritel. Kemudian rasio yang diperoleh dikalikan dengan  persediaan akhir yang dinilai dengan pendekatan eceran dapat dirumuskan sebagai berikut







V.      Penilaian Persediaan Barang
Yang dimaksud dengan penilaian persediaan barang dagang adalah
menentukan nilai persediaan yang dicantumkan dalam neraca. Persediaan akhir bisa dihitung harga pokokny menggunakan beberapa
cara penentuan harga pokok persediaan akhir, tetapi nilai ini tidak terlalu nampak dalam neraca, jumlah yang ditampilkan dalam neraca tergantung pada metode  penilaian yang digunakan.

1.      Metode Harga Pokok Dalam metode ini harga pokok persediaan akhir akan dicantumkan dalam neraca. Di sini tidak ada perbedaan antara harga pokok persediaan dan nilai persediaan dalam neraca. Harga pokok persediaan barang dapat dilakukan dengan cara MPKP (FIFO), rata-rata tertimbang, MTKP (LIFO) atau yang lain dan hasilnya dicantumkan dalam neraca tanpa perubahan. PSAK N0. 14 tidak membenarkan digunakannya metode harga pokok untuk menentukan nilai persediaan dalam neraca. 2.

2.      Metode Harga Pokok atau Nilai Realisasi yang Lebih Rendah  Nilai realisasi bersih merupakan batas maksimum yang diperkenankan untuk mencantumkan persediaan dan disebut batas atas ( ceiling ). Nilai realisasi bersih dikurangi laba normal merupakan batas minimum di mana nilai persediaan barang tidak boleh lebih rendah.
Untuk menentukan dengan nilai berapakah persediaan barang yang akan dicantumkan dalam neraca, pertama kali dibandingkan antara harga  pokok dengan nilai realisasi bersih, dipilih yang lebih rendah. Jumlah yang lebih rendah tersebut kemudian dibandingkan dengan batas atas dan batas  bawahnya.
Apabila jumlah yang lebih rendah tersebut masih dalam batas- batas atas dan bawah maka nilai persediaan dalam neraca adalah jumlah yang lebih rendah tersebut. Tetapi apabila jumlah yang lebih rendah tersebut di luar batas atas dan batas bawah, maka persediaan akan dinilai dengan batas atas atau batas bawah.

3.      Metode Laba Bruto (Laba Kotor) Menentukan jumlah persediaan dengan metode laba bruto, biasanya dilakukan dalam keadaan-keadaan sebagai berikut ini.
a.      Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang diperlukan untuk menyusun laporan-laporan jangka pendek, di mana perhitungan fisik tidak mungkin dijalankan.
b.      Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang rusak karena terbakar dan menentukan jumlah barang sebelum terjadinya kebakaran. Perhitungan ini sering diperlukan untuk menentukan besarnya klaim terhadap perusahaan asuransi. Dalam keadaan seperti ini metode laba  bruto dapat digunakan bila sebagian catatan-catatan yang diperlukan ada dan tidak musnah terbakar.
c.      Untuk mengecek jumlah persediaan yang dihitung dengan cara-cara lain, disebut test laba bruto. d.
d.      Untuk menyusun taksiran harga pokok penjualan, persediaan akhir dan laba bruto. Taksiran ini dihitung sesudah dibuat budget penjualan.

      Dalam metode laba bruto, pertama kali harus ditentukan besarnya  persentase laba bruto. Persentase ini bisa didasarkan pada penjualan atau harga pokok penjualan. Biasanya persentase laba bruto ditentukan dengan menggunakan data tahun-tahun lalu. Sesudah persentase laba bruto diketahui, kemudian dikalikan pada penjualan dan hasilnya dikurangkan  pada penjualan, sehingga dapat ditentukan jumlah harga pokok penjualan selisih antara harga pokok penjualan dengan barang-barang yang tersedia untuk dijual merupakan persediaan akhir.





4.      Metode Harga Eceran ( Retail Inventory Method ) Metode harga eceran biasanya digunakan dalam toko-toko yang menjual  bermacam-macam barang secara eceran, termasuk toko serba ada. Dalam  perusahaan-perusahaan seperti itu biasanya digunakan metode fisik untuk  pencatatan persediaan karena metode buku akan menimbulkan banyak. pekerjaan.
Metode harga eceran ini memungkinkan dihitungnya jumlah  persediaan tanpa mengadakan perhitungan fisik. Metode ini bisa digunakan untuk :
a.      Menaksir jumlah persediaan barang untuk penyusunan laporan keuangan jangka pendek.
b.      Mempercepat perhitungan fisik, karena jumlah yang dihitung itu dicantumkan dengan harga jualnya, maka untuk mengubahnya ke harga pokok ialah dengan mengalikannya dengan presentase harga  pokok tanpa perlu memperhatikan masing-masing fakturnya.
c.       Mutasi barang dapat diawasi yaitu dengan membandingkan hasil  perhitungan fisik yang dinilai dengan harga jual dengan hasil  perhitungan dari metode harga eceran.
                              Metode persediaan eceran ( retail inventory method ),
                              mensyaratkan  bahwa pencatatan dilakukan atas dasar:
a)      Total biaya dan nilai eceran dari barang yang dibeli.
b)      Total biaya dan nilai eceran barang yang tersedia untuk dijual.
c)      Penjualan periode berjalan
                              Ada beberapa versi metode persediaan eceran yaitu:
a)      Metode Konvensional, yaitu nilai terendah antara biaya rata-rata dan harga pasar. 
b)      Metode Biaya.
c)      Metode Eceran LIFO.
                                    d)  Metode Eceran LIFO nilai-dolar

Rabu, 20 Januari 2016


POS TRANSITORIS DAN ANTISIPASI


1.      Pengertian Pos Transitoris
Pos Transitoris adalah pendapatan yang sudah diterima kasnya akan tetapi belum menjadi hak perusahaan, dan biaya yang sudah dibayar dengan kas akan tetapi belum menjadi kewajiban perusahaan.
Pada Pos Transitoris terdapat 2(dua) macam rekening,yaitu:
a.       Pos Transitoris Aktif
Pos Transitoris Aktif adalah pos yang berhubungan dengan biaya –biaya yang sudah di bayar oleh perusahaan tetapi belum semuanya di manfaatkan oleh perusahaan. Contohnya perkiraan yang berhubungan dengan pos transitoris aktif sebagai berikut:
·         Persekot biaya / biaya dibayar di muka
Biaya dibayar dimuka adalah bagian dari asset perusahaan dalam kelompok aktiva lancar, yang merupakan klaim kepada pihak tertentu yang pelunasannya dalam bentuk selain kas, karena itu tidak dikelompokan kedalam kelompok piutang. Transaksinya debet biaya dibayar dimuka selalu menyebabkan pengurangan terhadap asset perusahaan dalam bentuk kas. Perbedaannya dengan piutang adalah : Kalau piutang diharapkan pembayarannya dalam bentuk kas sedangkan biaya dibayar dimuka diharapkan perusahaan memperoleh selain kas, misalnya barang atau jasa yang diperlukan perusahaan. Biaya dibayar dimuka timbul akibat pembelian barang, jasa atau aktiva lain yang belum diterima atau belum sepenuhnya diterima oleh perusahaan. Contoh dari akun biaya dibayar di muka adalah sewa dibayar di muka, asuransi dibayar di muka, iklan dibayar di muka, bunga dibayar di muka, dan sebagainya.

b.      Pos Transitoris Pasif
Pos Transitoris Pasif adalah pos yang berhubungan dengan penghasilan yang sudah diterima oleh perusahaan tetapi sebenarnya belum menjadi hak perusahaan. Contoh perkiraan yang berhubungan dengan pos transitoris pasif sebagai berikut:
Pendapatan Diterima di Muka
Pendapatan diterima dimuka adalah penerimaan-penerimaan yang tidak merupakan pendapatan untuk periode yang bersangkutan, Penerimaan-penerimaan semacam ini akan tetap dilaporkan sebagai pendapatan yang diterima di muka sampai saat di mana penerimaan tadi diakui sebagai pendapatan,contohnya:
·         Penghasilan sewa di terima di muka
Sewa Dibayar di Muka adalah pengeluaran yang dilakukan oleh suatu entitas untuk sewa suatu aset milik pihak lain yang jangka waktunya lebih dari satu Periode Akuntansi.
·         Penghasilan bunga yang di terima di muka


2.      Pengertian Pos Antisipasi
Pos Antisipasi adalah pendapatan yang belum diterima dalam bentuk kas akan tetapi sudah menjadi hak perusahaan, dan biaya yang belum dibayar dengan kas akan tetapi sudah menjadi kewajiban perusaahaan.
Sama halnya dengan Pos Transaitoris, pos antisipasi dibagi menjadi dua rekening,yaitu:
a.       Pos Antisipasi Aktif
Pos Antisipasi Aktif adalah pendapatan-pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum diterima kasnya. Transaksi ini dikenal dengan nama Pendapatan Yang Masih Akan Diterima atau Piutang Pendapatan. Contohnya: Perusahaan menyewakan gedung selama satu tahun terhitung dari 1 Juli 2006 sampai 30 Juni 2007. Biaya sewa selama satu tahun yaitu Rp. 8.000.000.00. dan diterima dibelakang pada 30 Juni 2007. Jika perusahaan membuat laporan keuangan pada 31 Juli 2006, maka pendapatan yang harus diterima untuk tahun 2006 adalah Rp. 200.000.00 yaitu sewa untuk jangka waktu 1 bulan terhitung dari 1 Juli 2006 sampai 31 Juli 2006 meskipun kasnya belum diterima. Pos antisipasi demikian menimbulkan adanya tagihan sewa yang akan dilaporkan sebagai aktifa yaitu sewa masih akan diterima.
b.      Pos Antisipasi Pasif
Pos Antisipasi Pasif adalah beban-beban yang telah menjadi beban suatu periode akuntansi, akan tetapi belum dikeluarkan kasnya sampai pada akhir periode akuntansi yang bersangkutan.
Contoh transaksi yang berhubungan dengan pos ini adalah :
·         utang biaya gaji
·          utang biaya iklan
  

3.      Pencatatan Pos Transitoris Aktif dan Pasif serta Pos dalam Pendekatan Neraca dan Pendekatan Laba Rugi
Menurut Donald E Kieso, (2004 : 391) mengemukakan sebagai berikut :
a.       Pendekatan laba rugi (Income statement approach)
Pendekatan laba rugi (income statement approach) merupakan jumlah beban piutang tak tertagih dan kredit yang berkaitan pada akun penyisihan tidak dipengaruhi oleh setiap saldo yang ada saat ini dalam akun penyisihan, karena estimasi beban piutang tak tertagih berhubungan dengan akun nominal (penjualan) dan setiap saldo dalam akun penyisihan diabaikan. Karenanya penandingan biaya dengan pendapatan secara tepat akan tercapai.
b.      Pendekatan neraca (Balance sheet approach)
Sedangkan pendekatan neraca (balance sheet approach), berdasarkan pengalaman masa lalu, sebuah perusahaan dapat mengestimasikan presentase piutang beredarnya yang tidak akan tertagih, tanpa mengidentifikasi piutang tertentu. Prosedur ini menyediakan estimasi yang cukup akurat menyangkut nilai piutang yang dapat direalisasi, tetapi tidak sesuai dengan prinsip penandingan biaya dan pendapatan  dan  tujuan dari metode ini adalah melaporkan nilai realisasi bersih piutang dalam neraca
Berikut ini adalah contoh dari pencatatan dengan menggunakan pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi:
Ø  Pencatatan pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi untuk pos transitoris aktif:

Pendekatan neraca
Pendekatan laba / rugi
- waktu mencatat
- waktu mencatat
Persekot biaya
Rp xx
Biaya …….
Rp xx
         Kas
Rp xx
        Kas
R p xx
- Waktu penyesuaian
- waktu penyesuaian
Biaya …….
Rp xx
Persekot biaya
Rp xx
Persekot biaya
Rp xx
          Biya ….
Rp xx







Ø  Pencatatan pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi untuk pos transitoris pasif:
Pendekatan neraca
Pendekatan laba - rugi
- Waktu mencatat
- waktu mencatat
Kas                              Rp xx
- Kas                              Rp xx
         Utang penghasilan           Rp xx
             Penghasilan sewa          Rp xx
- Waktu penyesuaian
-Waktu penyesuaian
Utang penghasilan        R p xx
Penghasilan sewa           Rp xx
         Penghasilan sewa             Rp xx
              Utang penghasilan        Rp xx

 4.      Pencatatan Pos Antisipasi Aktif dan Pasif
Pos antisipasi aktif merupakan pendapatan yang diterima di belakang. Pendapatan untuk perioda tertentu yang belum diterima uangnya diakui melalui jumal penyesuaian pada akhir perioda. Jurnal penyesuaian tersebut dibalik pada hari kerja pertama perioda berikutnya.Penerimaan kas dicatat dengan mendebit rekening Kas dan mengkredit rekening Pendapatan.
Contoh pencatatannya
Piutang Penghasilan                              Rp xx
         Penghasilan           Rp xx

Pos antisipasi pasif merupakan biaya yang dibayar di belakang. Biaya untuk perioda tertentu yang belum diterima uangnya diakui melalui jumal penyesuaian pada akhirperioda. Jurnal penyesuaian tersebut dibalik pada hari keria pertama perioda berikutnya.Pembayaran kas dicatat dengan mendebit rekening biaya dan mengkredit rekening Kas.
Contoh pencatatannya
Biaya                              Rp xx
         Hutang           Rp xx


5.      Contoh Permasalahan yang berkaitan dengan rekening Pos Transitoris Aktif dan Pasif serta Pos Antisipasi Aktif dan Pasif
Ada dua cara pencatatan pada waktu melakukan pembayaran beban ( biaya ) :
a.          Pendekatan Neraca, yaitu pembayaran beban dicatat dalam rekening “ Beban dibayar di muka “
b.         Pendekatan Rugi Laba, yaitu pembayaran beban dicatat dalam rekening “ Beban….”

Contoh :
Pada Tanggal 1 April 1990 membayar premi asuransi untuk satu tahun Rp. 240.000,00.

a.       Jika menggunakan pendekatan neraca, transaksi tersebut dicatat dalam rekening :

Asuransi dibayar dimuka ( Debet )     Rp. 240.000,00
                              Kas ( Kredit )                                                              Rp. 240.000,00

Jumlah tersebut akan tetap terlihat pada rekening asuransi dibayar di muka di neraca saldo 31 Desember 1990.
Sampai dengan tanggal 31 Desember 1990 tersebut sebenarnya asuransi yang sudah dimanfaatkan adalah 9 bulan ( 1 April 1990 – 31 Desember 1990 ). Ini berarti sejumlah Rp. 180.000,00 ( 9/12 x Rp. 240.000,00 ) sudah menjadi beban tahun 1990. Maka jumlah tersebut harus dipindahkan dari rekening “ Asuransi dibayar dimuka “ ke rekening “ Beban Asuransi “ dengan jurnal penyesuaian :

Beban Asuransi                                               Rp. 180.000,00
                              Asuransi dibayar di muka                                           Rp. 180.000,00



b.      Jika menggunakan Pendekatan Rugi Laba , transaksi pada contoh di atas pada tanggal 1 April 1990, dicatat dalam rekening :

                  Biaya Asuransi ( debet )                                 Rp. 240.000,00
                              Kas ( Kredit )                                                              Rp. 240.000,00

Sampai dengan tanggal 31 Desember 1990 sebenarnya yang sudah menjadi beban baru 9 bulan ( Rp. 180.000,00 ). Sedangkan sisanya ( Rp. 60.000,00 ) bukan merupakan beban tahun 1990.
Maka jumlah yang eblum merupakan beban tersebut harus di pindahkan dari rekening ” Biaya Asuransi “ ke rekening “Asuransi dibayar di muka “ , dengan jurnal penyesuaian :

Asuransi dibayar di muka                               Rp. 60.000,00
                              Beban Asuransi                                                           Rp. 60.000,00

Pada waktu menerima pendapatn pada umumnya dicatat dalam rekening pendapatan ( Pendekatan Rugi – Laba ), tetapi kadang – kadang pendapatan yang diterima untuk lebih dari satu periode dicatat dalam rekening Pendapatan diterima di muka ( Pendekatan neraca ).

Contoh :

Pada tanggal 1 Juli 1990 diterima sewa untuk 2 tahun Rp. 2.000.000,00.

a.                   Jika mengunakan pendekatan neraca transaksi tersebut di catat dalam rekening :

Kas ( debit )                                        Rp. 2.000.000,00
                              Sewa diterima di muka ( kredit )                                Rp. 2.000.000,00

Jumlah tersebut akan tetap terlihat pada rekening sewa diterima di muka di neraca saldo 31 Desember 1990.
Sampai dengan tanggal 31 Desember 1990 tersebut, sebenarnya yang sudah merupakan pendapatan tahun 1990, adalah 6 bulan ( 1 Jli 1990 – 31 Desember 1990) = 6/24 x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 500.000,00. Sedang selebihnya ( Rp. 1.500.000,00 ) belum merupakan pendapatan tahun 1990.
Karena pada saat penerimaan sewa dicatat dalam rekening sewa diterima di muka maka untuk jumlah yang sudah merupakan pendapatan tahun 1990 harus dipindahkan ke rekening Pendapatan Sewa dengan jurnal Penyesuaian  sebagai berikut :

Sewa diterima di muka                                   Rp. 500.000,00
                              Pendapatan sewa                                                        Rp. 500.000,00

b.                  Jika menggunakan pendekatan Rugi – Laba, transaksi di atas dicatat dalam rekening :

Kas ( debit )                                        Rp. 2.000.000,00
                              Pendapatan sewa ( kredit )                                         Rp. 2.000.000,00

Sampai dengan tanggal 31 Desemmber 1990, sebenarnya yang sudah merupakan pendapatan tahun 1990 adalah Rp. 500.000,00. Sedang selebihnya ( Rp. 1.500.000,00 ) belum merupakan pendapatan.
Jumlah ini harus dipindahkan ke rekening Pendapatan Sewa diterima di muka dengan jurnal penyesuaian :

Pendapatan sewa                                            Rp. 1.500.000,00
                              Sewa diterima di muka                                               Rp. 1.500.000,00


Perusahaan membayar gaji pegawai mingguan tiap hari sabtu. Tarif gaji Rp.  40.000,00 per hari. Pembayaran gaji terakhir tanggal 27 Desember dengan demikian gaji karyawan tanggal 29, 30, dan 31 Desember belum di bayar karena baru akan di bayar pada hari Sabtu tanggal 3 Januari tahun berikutnya. Ini berarti sampai akhir periode akuntansi terdapat gaji yang beluum di bayar 3 hari @ Rp. 40.000,00 = Rp. 120.000,00.

Jurnal penyesuaiannya:
Beban gaji                               Rp.   120.000,00
                                    Utang gaji                                           Rp.  120.000,00

Suatu perusahaan menyimpan uang di Bank Pasifik, Rp.  1.000,000,00 pada tangggal 1 September 1990. Suku bunga 18%, bunga di terima 6 bulan sekali (tiap 1 Maret – 1 September).
Ini berarti bunga 6 bulan pertama baru akan di terima tanggal 1 Maret 1991 sehingga sampai akhir periode akuntansi, terdapat bunga yang di tunda penerimaannya selama 4 bulan (1 September – 31 Desember) yaitu 4/12 x 18% x Rp. 1.000.000,00 = Rp.  60.000,00.

Jurnal penyesuaiannya:

Piutang bunga                                                             Rp. 60.000,00
                                    Pendapatan bunga                                                       Rp. 60.000,00


.