PERSEDIAN
I.
Pengertian Persediaan
1. Pengertian Umum Persediaan (inventory), adalah
meliputi semua barang yang dimiliki
perusahaan pada saat tertentu, dengan tujuan untuk dijual atau
dikonsumsi dalam siklus operasi normal perusahaan. Aktiva lain yang dimiliki perusahaan, tetapi tidak untuk dijual atau
dikonsumsi tidak termasuk dalam klasifikasi persediaan. Persediaan merupakan
aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu
perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur),
apalagi perusahaan yang bergerak
dibidang konstruksi, hampir 50% dana
perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-
bahan bangunan.
2. InventoryPerusahaan Dagang
Persediaan merupakan barang-barang
yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali dengan tanpa
mengubah bentuk dan kualitas barang,
atau dapat dikatakan tidak ada proses produksi sejak barang dibeli sampai
dijual kembali oleh perusahaan. 3.
3. Inventory Perusahaan Industri
Pengertian persediaan untuk perusahaan
industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan
tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi atau
mungkin menjadi bahan baku bagi
perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses usaha utama
perusahaan.
Misalnya : Perusahaan industri
permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani atau perkebunan,
diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya. Sedangkan
perusahaan industri kain bahan bakunya adalah
benang yang diolah menjadi kain sebagai barang
jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi membutuhkan bahan baku kain
dan seterusnya.
Dengan gambaran diatas maka persediaan
untuk perusahaan- perusahaan manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis
persediaan yaitu:
a. Bahan baku ( direct material ) Barang
persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga akan menjadi barang
setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya
persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman
produksi, dapat diandalkannya pihak pemasok serta tingkat efisiensi penjadwalan
pembelian dan kegiatan produksi.
b. Barang dalam proses ( work in proses )
Adalah barang yang masih memerlukan
proses produksi untuk menjadi barang
jadi, sehingga persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya
produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan
saat penyelesaian barang jadi.
Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya
produksi. Dalam rangka memperpendek waktu
produksi salah satu cara adalah dengan menyempurnakan tekhnik-tekhnik
rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa dipercepat. Cara
laian adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.
c. Barang jadi ( finished goods )
Adalah barang hasil proses produksi
dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar
kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi
produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan
dengan cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk
resiko yang kecil ( marginal risk ). Tetapi tidak peduli apakah barang- barang
tercatat sebagai persediaan atau sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus
tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan lebih suka menjualnya (dan tercatat
sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk menuju realisasi kas
tinggal satu langkah saja. Dan laba
potensial dapat menutup tambahan resiko penagihan piutang.
II.
Metode Pencatatan Persediaan Barang
Metode
yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan persediaan ada dua, yaitu sebagai berikut
ini.
1. Metode Stock Opname atau Metode Periodik
(Fisik)
Persediaan yang merupakan komponencost
of goods sold (CGS) maka perhitungan
kuantitas persediaan yang dilakukan denganstock opname tergantung dari
kelengkapan data atau catatan dan perhitungan barang. Dengan cara ini
perhitungan persediaan yang dibebankan pada CGS ada kemungkinan overstatement ,
karena hanya membandingkan dan menghitung jumlah barang yang dimiliki dikurangi
dengan persediaan akhir. Sehingga kalau terjadi adanya barang yang hilang,
rusak, menguap, turun kualitasnya dsb, maka hal ini bila tidak terungkap akan
menyebabkan laporan laba – rugi tidak atau kurang informatif. Karena
tidak ada catatan mutasi persediaan barang maka harga pokok penjualan juga tidak dapat diketahui
sewaktu-waktu. Harga pokok penjualan
baru dapat dihitung apabila persediaan akhir sudah dihitung. Di samping itu,
karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya.
diperlukan sebagai kerugian
extraordinary item, kemudian dengan
perhitungan stock opname
secara berkala tidaklah cukup sebagai
dasar pembuatan keputusan yang bersifat
manajerial secara cepat.
Perhitungan harga pokok penjualan
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Persediaan barang awal Rp
xxx
Pembelian xxx (+)
Brg tersedia untuk dijual Rp xxx
Persediaan barang akhir xxx (-)
Harga Pokok Penjualan Rp
xx
2. Metode Perpetual
Dalam metode perpetual ini terdapat
kelemahan pada saat menentukan nilai dan jumlah barang, karena dengan metode
pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo persediaan setiap saat dapat
diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung jumlah barang
bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement, karena
adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam
menentukan jumlah persediaan adalah kalau menggunakan metode gabungan antara
metode perpetual dengan stock opname (metode fisik).
Perbedaan perhitungan atau pencatatn
antara metode stock opname
(metode fisik) dengan metode perpetual
dapat dilihat pada tabel di Lembar Selanjutnya :
TRANSAKSI
|
METODE FISIK
|
METODE PERPETUAL
|
Pada saat pembelian
barang dagangan
|
Pembelian xx
Kas/Utang xx
|
Persediaan brg
dgng xx
Kas/ Utang xx
|
PERPETUAL Pada
saat penjualan barang dagangan
|
Kas/piutang xx
Penjualan xx
|
Kas/Piutang xx
Penjualan xx
Harga
Perolehan xx
Persediaan brg dgng xx
|
TRANSAKSI
|
METODE FISIK
|
METODE PERPETUAL
|
Retur Penjualan Retur
|
Penjualan xx
Piutang xx
|
Retur penjualan xx
Piutang
xx
Persediaan brg dgng xx
Harga perolehan xx
|
Retur Pembelian
|
Utang Dgng xx
Retur Pemb xx
|
Utang Dagang xx
Retur Pembelian xx
|
Penyesuaian
|
Ikhtisar L/R xx
Prsdiaan brg dgng xx
Persediaan brg dgng
xx
Ikhtisar L/R
xx
|
_
|
III.
Masalah Pemilikan Persediaan Barang
1. Kepemilikan Persediaan dalam
PerjalananPersediaan barang dalam perjalanan, meliputi pihak yang berhak
menerima persediaan.
a. FOB ( Free on Board ) shipping point.
Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada
penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan pengirim barang yang
independen.
b. FOB ( Free on Board ) destination point.
Kepemilikan barang masih berada di
penjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.
2. Barang-barang yang Dipisahkan ( Segregated
Goods)
Kadang-kadang
terjadi suatu kontrak penjualan barang dalam jumlah besar
hingga pengirimannya tidak dapat
dikirim sekaligus. Barang-barang yang dipisahkan tersendiri dengan maksud untuk
memenuhi kontrak-kontrak atau pesanan-pesanan walaupun belum dikirim, haknya
sudah berpindah kepada pembeli. Oleh
karena itu pada tanggal penyusunan laporan keuangan jika ada barang-barang
dipisahkan, harus dikeluarkan dari jumlah persediaan penjual dan dicatat
sebagai penjualan. Begitu pula pembeli
dapat mencatat pembelian dan menambah persediaan barangnya.
3. Barang Konsinyasi ( Consignment Goods) Dalam
cara penjualan titipan, barang-barang yang dititipkan untuk dijualkan
(dikonsinyasikan) haknya masih tetap pada yang menitipkan sampai barang-barang
tersebut dijual. Sebelum barang-barang tersebut dijual masih tetap menjadi
persediaan pihak yang menitipkan ( consignor ). Pihak yang menerima titipan (
consignee ) tidak mempunyai hak atas
barang-barang tersebut sehingga tidak mencatat barang-barang tersebut
sebagai persediaannya. Apabila barang-barang itu sudah dijual maka yang
menerima titipan membuat laporan pada yang menitipkan. Pada waktu menerima
laporan, pihak yang menitipkan mencatat penjualan dan mengurangi persediaan
barangnya.
4. Penjualan Angsuran ( Installment Sales ) Dalam
penjualan angsuran, hak atas barang tetap pada penjual sampai seluruh harga
jualnya dilunasi. Penjual akan melaporkan barang-barang tersebut dalam
persediaannya dikurangi jumla yang sudah dibayar. Pembeli akan melaporkan
barang-barang tersebut dalam persediannya sejumlah yang sudah dibayarkannya.
Apabila dianggap bahwa kemungkinan pembatalan penjualan tersebut kecil maka
penjual dapat mengakuinya sebagai penjualan biasa yang diangsur dan pembeli
dapat mencatatnya sebagai pembelian biasa yang pembayarannya diangsur. Ada
beberapa cara penjualan angsuran di mana masing-masing cara akan ditentukan
cara mencatatnya.
Contoh kasus:
Dibeli mesin
dengan harga RP20.000.000,00 yang pembayarannya akan diangsur selama 5 tahun,
setiap tahun sebesar Rp4.000.000,00 ditambah bunga 10% pertahun. Jurnal yang
dibuat oleh pembeli untuk mencatat pembelian mesin dan pembayaran angsuran
adalah sebagai berikut: Pembelian mesin:
Mesin
Rp20.000.000,00
Hutang
Rp20.000.000,00
Akhir tahun pertama:
Hutang
Rp4.000.000,00
Biaya
bunga Rp2.000.000,00
Kas Rp6.000.000,00
Bunga: 10% x Rp20.000.000,00 = Rp2.000.000,00
Akhir tahun kedua:
Bunga: 10% x Rp20.000.000,00 = Rp2.000.000,00
Akhir tahun kedua:
Hutang
Rp4.000.000,00
Biaya
bunga Rp1.600.000,00
Kas
Rp5.600.000,00
Bunga: 10% x Rp16.000.000,00 =
Rp1.600.000,00 dan seterusnya
IV.
Metode
Penentuan Harga Pokok Penjualan
1. Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok (
cost basic flow approach) ini terdapat dua sistem pencatatan persediaan yaitu
sistem periodik dan sistem perpetual
yang masing-masing ada tiga cara
penilaian persediaan, yaitu:
a. FIFO ( First in First Out ), masuk pertama
keluar pertama (MPKP) Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai
perolehan awal (pertama) masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu,
sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang
terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak
pada nilai aktiva perusahaan yang
dibeli.
b. LIFO ( Last In First Out ), masuk terakhir
keluar pertama (MTKP) Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai
perolehan terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan dilaporkan
berdasarkan nilai perolehan persediaan
yang awal (pertama) masuk atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai
persediaan akhir yang rendah dan
berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah.
c. Metode Rata-rata ( average method ) Dengan
menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara
nilai persediaan metode FIFO dan nilai
persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor.
2. Penilaian Persediaan Selain Arus Harga Pokok
Dalam pendekatan ini ada tiga metode yang digunakan, yaitu:
a.
Lower
Cost of Market
Yaitu metode harga terendah antara
harga pokok dan harga pasar. Metode ini dapat diterapkan dalam kondisi
persediaan tidak normal, misalnya cacat, rusak dan kadaluarsa. Pokok dari
metode ini adalah membandingkan nilai yang lebih rendah antara nilai pasar
(replacement value) dan nilai perolehan ( cost ). Nilai pasar yang akan dipilih
harus dibatasi, yaitu tidak boleh lebih rendah dari batas bawah ( floor limit ) dan tidak boleh
lebih tinggi dari ( ceiling limit ).
b. Gross
Profit Method
Metode laba kotor ini bersifat estimasi dalam penilaian persediaannya. Biasanya diterapkan karena keterbatasan dokumen yang terkait dengan persediaan, misalnya karena terjadi bencana kebakaran dan banjir. Dasar penilaian persediaannya adalah pada persentase laba kotor perusahaan tahun berjalan atau rata-rata selama beberapa tahun.
Metode laba kotor ini bersifat estimasi dalam penilaian persediaannya. Biasanya diterapkan karena keterbatasan dokumen yang terkait dengan persediaan, misalnya karena terjadi bencana kebakaran dan banjir. Dasar penilaian persediaannya adalah pada persentase laba kotor perusahaan tahun berjalan atau rata-rata selama beberapa tahun.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1) mengestimasi nilai penjualan tahun berjalan,
2) menghitung nilai harga pokok penjualan
berdasarkan pada persentase laba kotor
yang telah diketahui, dan
3) menghitung estimasi nilai persediaan akhir dengan
mengurangkan harga pokok penjualan terhadap penjualan.
c.
Retail Method
Metode eceran ini menilai persediaan
akhir dengan cara menghitung terlebih dahulu nilai persediaan akhir berdasarkan
eceran. Nilai persediaan akhir dengan harga pokok akan diketahui dengan cara
menghitung rasio antara nilai persediaan yang tersedia untuk dijual dengan
pendekatan harga pokok dibandingkan dengan
pendekatan ritel. Kemudian rasio yang diperoleh dikalikan dengan persediaan akhir yang dinilai dengan
pendekatan eceran dapat dirumuskan sebagai berikut
Yang dimaksud dengan penilaian persediaan
barang dagang adalah
menentukan nilai persediaan yang dicantumkan
dalam neraca. Persediaan akhir bisa dihitung harga pokokny menggunakan beberapa
cara penentuan harga pokok persediaan akhir,
tetapi nilai ini tidak terlalu nampak dalam neraca, jumlah yang ditampilkan
dalam neraca tergantung pada metode
penilaian yang digunakan.
1. Metode Harga Pokok Dalam metode ini harga
pokok persediaan akhir akan dicantumkan dalam neraca. Di sini tidak ada
perbedaan antara harga pokok persediaan dan nilai persediaan dalam neraca.
Harga pokok persediaan barang dapat dilakukan dengan cara MPKP (FIFO),
rata-rata tertimbang, MTKP (LIFO) atau yang lain dan hasilnya dicantumkan dalam
neraca tanpa perubahan. PSAK N0. 14 tidak membenarkan digunakannya metode harga
pokok untuk menentukan nilai persediaan dalam neraca. 2.
2. Metode Harga Pokok atau Nilai Realisasi yang
Lebih Rendah Nilai realisasi bersih
merupakan batas maksimum yang diperkenankan untuk mencantumkan persediaan dan
disebut batas atas ( ceiling ). Nilai realisasi bersih dikurangi laba normal
merupakan batas minimum di mana nilai persediaan barang tidak boleh lebih
rendah.
Untuk menentukan
dengan nilai berapakah persediaan barang yang akan dicantumkan dalam neraca,
pertama kali dibandingkan antara harga
pokok dengan nilai realisasi bersih, dipilih yang lebih rendah. Jumlah
yang lebih rendah tersebut kemudian dibandingkan dengan batas atas dan
batas bawahnya.
Apabila jumlah
yang lebih rendah tersebut masih dalam batas- batas atas dan bawah maka nilai
persediaan dalam neraca adalah jumlah yang lebih rendah tersebut. Tetapi
apabila jumlah yang lebih rendah tersebut di luar batas atas dan batas bawah,
maka persediaan akan dinilai dengan batas atas atau batas bawah.
3. Metode Laba Bruto (Laba Kotor) Menentukan
jumlah persediaan dengan metode laba bruto, biasanya dilakukan dalam
keadaan-keadaan sebagai berikut ini.
a. Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang
diperlukan untuk menyusun laporan-laporan jangka pendek, di mana perhitungan
fisik tidak mungkin dijalankan.
b. Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang
rusak karena terbakar dan menentukan jumlah barang sebelum terjadinya kebakaran.
Perhitungan ini sering diperlukan untuk menentukan besarnya klaim terhadap
perusahaan asuransi. Dalam keadaan seperti ini metode laba bruto dapat digunakan bila sebagian
catatan-catatan yang diperlukan ada dan tidak musnah terbakar.
c. Untuk mengecek jumlah persediaan yang dihitung
dengan cara-cara lain, disebut test laba bruto. d.
d. Untuk menyusun taksiran harga pokok penjualan,
persediaan akhir dan laba bruto. Taksiran ini dihitung sesudah dibuat budget
penjualan.
Dalam metode laba bruto, pertama kali
harus ditentukan besarnya persentase
laba bruto. Persentase ini bisa didasarkan pada penjualan atau harga pokok
penjualan. Biasanya persentase laba bruto ditentukan dengan menggunakan data
tahun-tahun lalu. Sesudah persentase laba bruto diketahui, kemudian dikalikan
pada penjualan dan hasilnya dikurangkan
pada penjualan, sehingga dapat ditentukan jumlah harga pokok penjualan
selisih antara harga pokok penjualan dengan barang-barang yang tersedia untuk
dijual merupakan persediaan akhir.
4. Metode Harga Eceran ( Retail Inventory Method
) Metode harga eceran biasanya digunakan dalam toko-toko yang menjual bermacam-macam barang secara eceran, termasuk
toko serba ada. Dalam perusahaan-perusahaan
seperti itu biasanya digunakan metode fisik untuk pencatatan persediaan karena metode buku akan
menimbulkan banyak. pekerjaan.
Metode harga
eceran ini memungkinkan dihitungnya jumlah
persediaan tanpa mengadakan perhitungan fisik. Metode ini bisa digunakan
untuk :
a. Menaksir jumlah persediaan barang untuk penyusunan
laporan keuangan jangka pendek.
b. Mempercepat perhitungan fisik, karena jumlah
yang dihitung itu dicantumkan dengan harga jualnya, maka untuk mengubahnya ke
harga pokok ialah dengan mengalikannya dengan presentase harga pokok tanpa perlu memperhatikan masing-masing
fakturnya.
c. Mutasi barang dapat diawasi yaitu dengan
membandingkan hasil perhitungan fisik
yang dinilai dengan harga jual dengan hasil
perhitungan dari metode harga eceran.
Metode persediaan
eceran ( retail inventory method ),
mensyaratkan bahwa pencatatan dilakukan atas dasar:
a) Total biaya dan nilai eceran dari barang yang
dibeli.
b) Total biaya dan nilai eceran barang yang
tersedia untuk dijual.
c) Penjualan periode berjalan
Ada beberapa versi
metode persediaan eceran yaitu:
a) Metode Konvensional, yaitu nilai terendah
antara biaya rata-rata dan harga pasar.
b) Metode Biaya.
c) Metode Eceran LIFO.
d) Metode Eceran LIFO nilai-dolar